Implementasi Rekam Medik Elektronik di RS Tipe C dan D

Penerapan Rekam Medik Elektronik (RME) merupakan bentuk kewajiban yang harus dilakukan oleh rumah sakit. Pemerintah mendorong seluruh rumah sakit untuk meninggalkan sistem manual dan beralih ke pencatatan digital yang terintegrasi, aman, dan akurat.
Namun pada praktiknya, implementasi Rekam Medik Elektronik di RS Tipe C dan D masih menghadapi banyak tantangan. Mulai dari keterbatasan SDM, kesiapan infrastruktur, hingga resistensi tenaga medis menjadi hambatan yang sering terjadi di lapangan.
Artikel ini akan membahas secara mendalam tantangan utama implementasi RME di RS Tipe C dan D, agar rumah sakit dapat mempersiapkan strategi yang lebih matang dan berkelanjutan. Sebab, dengan demikian operasional tetap berjalan maksimal.
Baca juga : Alasan Rumah Sakit Harus Beralih ke Rekam Medis Elektronik!
Namun, sebelum mencari tahu rekam medis yang sesuai kebutuhan, maka ada baiknya untuk mempelajari beberapa fitur di bawah ini.
Pelajari fitur SIMRS lengkapApa Itu Rekam Medik Elektronik?
Rekam Medik Elektronik (RME) adalah sistem pencatatan data medis pasien secara digital yang mencakup tentang Identitas pasien, riwayat kunjungan, diagnosis dan tindakan medis, resep dan penggunaan obat, hasil pemeriksaan penunjang dan catatan tenaga kesehatan.
Aplikasi rekam medik umumnya selalu menjadi satu bagian inti dari Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) dan terhubung dengan BPJS serta platform nasional seperti SATUSEHAT Kemenkes.
SIMRS berisi beberapa fitur unggulan yang dapat menunjang operasional rumah sakit, dengan demikian rumah sakit tipe C dan D tidak perlu memikirkan apakah aplikasi rekam medis berjalan sendiri atau tetap terintegrasi.
Mengapa RME Penting bagi RS Tipe C dan D?
Berbeda dengan rumah sakit tipe A dan B, jika RS Tipe C dan D memiliki karakteristik yang berbeda. Antara lain mulai dari volume pasien tinggi, SDM terbatas, Tim IT kecil, anggaran yang sensitif dan tekanan audit dan regulasi cukup besar.
Namun, tanpa adanya RME yang baik dan sesuai kebutuhan, rumah sakit berisiko dapat mengalami beberapa hal seperti data pasien tidak rapi dan duplikasi, masalah klaim BPJS sering revisi, pelayanan menjadi lambat hingga beberapa temuan saat audit dan akreditasi
Namun, meskipun penting, implementasi RME tidak selalu mudah dan dapat diterapkan di banyak rumah sakit. Jika tidak sesuai regulasi, hingga minim fitur yang dapat mendukung proses kerja rumah sakit, maka semua akan terasa sia-sia.
Baca juga: Tips Memilih Aplikasi Rekam Medis untuk RS dan Klinik Anda
Tantangan Implementasi Rekam Medik Elektronik di RS Tipe C dan D
1. Migrasi Data Rekam Medik Lama
Tantangan terbesar dalam implementasi RME adalah migrasi data dari sistem lama atau dari rekam medis manual ke sistem elektronik.
Masalah yang sering muncul antara lain data tidak lengkap, format data tidak seragam, nomor rekam medis ganda hingga munculnya risiko kehilangan data penting.
Tidak hanya itu, jika proses migrasi dilakukan tanpa perencanaan yang matang, operasional pelayanan bisa terganggu dan menurunkan kepercayaan tenaga medis hingga akreditasi dari rumah sakit itu sendiri.
2. Keterbatasan SDM dan Tim IT
Sebagian besar RS Tipe C dan D hanya memiliki tim IT yang sangat terbatas, bahkan sering kali merangkap tugas lain. Akibatnya perawatan sistem menjadi lebih berat, masalah troubleshooting tidak bisa cepat hingga ketergantungan penuh pada vendor
Ketika aplikasi RME terlalu kompleks, beban kerja tim IT semakin tinggi dan berpotensi menghambat operasional rumah sakit.
3. Resistensi Tenaga Medis
Tidak sedikit dokter dan perawat merasa bahwa aplikasi rekam medis hanya dapat menambah beban administrasi, memperlambat proses pelayanan hingga tampilan sistem tidak user friendly sehingga menyulitkan tenaga medis.
Jika sistem sulit digunakan, tenaga medis cenderung tidak mau mengisi data secara lengkap, sehingga kualitas rekam medis justru menurun dan kurang optimal. Akibatkan data yang diperoleh tidak baik dan cenderung kurang.
4. Infrastruktur dan Server Tidak Stabil
Masalah infrastruktur masih menjadi tantangan besar, mulai dari server sering overload saat jam sibuk hingga akses sistem lambat. Selain itu tidak adanya sistem backup yang memadai sampai sistem keamanan data pasien belum optimal menambah masalah yang dihadapi oleh RS tipe C dan D.
Padahal, data rekam medis adalah data sensitif yang harus dijaga kerahasiaan dan keamanannya. Tidak boleh tercecer hingga bocor dan disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Baca juga: Alasan Rumah Sakit Harus Beralih ke Rekam Medis Elektronik!
5. Integrasi dengan Sistem Lain
Aplikasi rekam medis elektronik tidak berdiri sendiri sehingga tantangan lain adalah integrasi dengan layanan SIMRS, BPJS, V-Claim, SATUSEHAT, Kemenkes hingga modul farmasi dan keuangan
Ketika integrasi tidak stabil, maka munculah masalah seperti masalah Klaim BPJS tertunda, data tidak sinkron sampai dengan proses kerja menjadi manual Kembali
6. Anggaran yang Sensitif
Tidak seperti rumah sakit pada umumnya, jika RS Tipe C dan D sering kali menghadapi keterbatasan anggaran. Implementasi rekam medis elektronik dianggap mahal di awal membutuhkan investasi infrastruktur hingga memerlukan pelatihan SDM
Tanpa perencanaan yang tepat, biaya implementasi bisa menjadi beban bagi rumah sakit. Sehingga perlu diperhitungan dan direncanakan berapa total biaya yang bisa dikeluarkan untuk mendukung operasional rumah sakit.
Cek kesiapan SIMRS untuk RS AndaDampak Jika Tantangan Tidak Ditangani
Dalam jangka panjang, hal ini dapat menghambat perkembangan rumah sakit, merusak reputasi rumah sakit hingga penurunan akreditasi. Hingga masalah pembekuan operasional rumah sakit secara permanen.
Strategi Menghadapi Tantangan Implementasi RME
Meskipun tantangannya besar, implementasi RME tetap bisa berjalan optimal dengan pendekatan yang tepat. Mulai dari perencanaan migrasi data yang bertahap, pemilihan aplikasi dengan tampilan user friendly, dukungan dan pendampingan dari vendor, Infrastruktur dan keamanan data yang memadai hingga pelatihan berkelanjutan untuk tenaga medis
Pendekatan realistis dan bertahap jauh lebih efektif dibandingkan penerapan sistem secara terburu-buru. E-Doc Farmagitechs sebuah aplikasi rekam medis elektronik dapat menyesuaikan kebutuhan rumah sakit Anda. Sebab, aplikasi ini dirancang dengan dua pilihan antara lain tertulis dan tidak tertulis.
Aplikasi Rekam Medis E-Doc dapat menunjang pemberkasan dalam klaim BPJS, sudah terintegrasi dengan SIMRS dan layanan SATUSEHAT. Tidak hanya itu, E-Doc juga sudah mengikuti standar dari kementrian kesehatan yang berlaku.
Baca juga: Alasan Rumah Sakit Harus Beralih ke Rekam Medis Elektronik!
Kesimpulan
Tantangan implementasi Rekam Medik Elektronik di RS Tipe C dan D memang kompleks, mulai dari migrasi data, keterbatasan SDM, hingga integrasi sistem dan anggaran. Namun, meski demikian hal ini bisa dihindari jika rumah sakit ingin meningkatkan mutu pelayanan dan memenuhi tuntutan regulasi.
Saatnya menggunakan aplikasi rekam medis E-Doc untuk menunjang proses pencatatan data pasien yang lebih efisien dan optimal. Segera hubungi kami dan jadwalkan DEMO nya untuk merasakan fitur-fitur dari rekam medis elektronik E-Doc dari Farmagitechs.
Jadwalkan Presentasi SIMRS





